-
Connor Faulkner publicou uma atualização 4 anos, 6 meses atrás
SariAgri – Selama bertahun-tahun, Ta Thi Thanh Thuy manjalani profesi petani di sebidang tanah yang diapit di antara Sungai Mekong dan Laut Cina Selatan, salah satu sentra produksi padi Vietnam. Namun akibat dampak perubahan iklim, ia dan petani lain beralih menjadi petambak udang.
Naiknya air laut membawa peningkatan kadar garam yang signifikan di wilayah Delta Mekong, menjadikan tren budi daya tambak udang diperkirakan meningkatkan industri makanan laut negara tersebut.
Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan lebih dari dua kali lipat ekspor udang dari level saat ini menjadi U $ 10 miliar (S $ 13,3 miliar) pada tahun 2025. Selain mendapatkan pelatihan, para petani Delta juga mendapatkan pinjaman lunak dari program pemberdayaan otoritas setempat.
"Hidup sangat sulit bagi kami sampai kami mulai bertani udang. Banyak petambak udang di sekitar sini yang mampu membangun rumah bagus dan membuka rekening tabungan di bank," kata Thuy seperti dilansir Asia One dari laporan Reuters.
Peningkatan air laut di wilayah delta telah diperparah dengan pembangunan beberapa bendungan pembangkit listrik tenaga air di hulu yang selanjutnya mengurangi aliran air tawar.
"Kami menanam padi tapi tidak memanen padi. Ada saat padi masih bisa tumbuh saat air masih segar, tapi kemudian air menjadi semakin asin setiap tahun," ujar petani udang lain, Ta Thanh Long.
Mantan Direktur Pusat Promosi Pertanian provinsi Soc Trang, Duong Minh Hoang mengatakan, setidaknya sepertiga dari area pertanian padi di sepanjang garis pantai 72 kilometer provinsi Soc Trang telah terpengaruh oleh penggaraman selama beberapa tahun terakhir.
"Kami mengimbau masyarakat untuk beralih ke tanaman yang cocok dengan salinasi. Perubahan iklim berdampak pada semua orang di sini. Kami harus mencoba beradaptasi untuk bertahan hidup," kata Hoang.
Baca Juga: Menteri Trenggono: Petambak Milenial Harus Selalu Berpikir Kreatif Wah! Ternyata Budidaya Udang Tak Harus Modal Besar dan Lahan Luas
Vietnam adalah pengekspor beras terbesar ketiga di dunia, tetapi pendapatan yang dihasilkan dari ekspor udang telah melebihi pendapatan dari beras sejak 2013 dan tumbuh dengan cepat.
"Pengolah makanan laut di sekitar sini datang untuk membeli semua udang yang kami tambak," kata Ta Thanh Tung, 44, salah satu dari lima bersaudara Thuy yang semuanya beralih dari beras ke tambak udang.
"Kami mendengar mereka mengekspor udang ke Eropa, Cina dan Amerika Serikat". sambungnya.
Analis industri memperkirakan, ekspor naik 5-10 persen setiap tahun selama dekade ke depan, karena total lahan tambak udang negara itu sebagian besar di Delta, meningkat 3 hingga 5 persen setiap tahun.
Eksportir makanan laut terbesar Vietnam, Minh Phu Seafood Corp, bahkan memiliki target yang lebih ambisius untuk mengubah negara tersebut menjadi eksportir udang terbesar di dunia.
Minh Phu mengharapkan lebih dari selusin perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral yang baru-baru ini disepakati untuk membantu meningkatkan ekspor hingga US $ 20 miliar atau seperempat dari ekspor global pada tahun 2045.
Hal itu dapat membantu meringankan beberapa tekanan ekonomi yang dihadapi negara Asia Tenggara di tahun-tahun mendatang. Bank Dunia memperkirakan bahwa perubahan iklim saja dapat mengurangi pendapatan nasional Vietnam sebanyak 3,5 persen pada tahun 2050.
Berita Perikanan
Berita Perikanan Namun, peralihan usaha pertanian beras ke udang ini juga menimbulkan masalah lingkungannya sendiri. LSM yang berbasis di Swiss, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memperkirakan lebih dari setengah hutan yang melindungi dari erosi pantai dan gelombang badai telah dibuka untuk membuka tambak udang.Pakar akuakultur telah menyoroti kurangnya pengawasan peraturan tentang ledakan di tambak udang kecil, termasuk pola pakan dan pengelolaan limbah.
Ada kekhawatiran khusus tentang penggunaan antibiotik untuk mengobati penyakit pada stok udang. Antibiotik dapat meresap ke dalam limbah yang biasanya dibuang tidak diolah atau diolah secara tidak memadai, sehingga kembali ke saluran air di sekitarnya dan meningkatkan risiko pencemaran kimiawi di lingkungan terdekat dan efek samping yang merugikan pada rantai makanan.
Selain itu, peningkatan salinasi dan kenaikan level air laut yang mendorong peralihan pada awalnya dapat menghancurkan Delta. Kenaikan 0,7 hingga 1,0 meter akan membuat sekitar 40 persen wilayah itu berada di bawah air, menurut Le Anh Tuan, seorang profesor di Sekolah Tinggi Lingkungan dan Sumber Daya Alam di Universitas Can Tho.
"Tren penyusutan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang dan sebagian dari sawah harus diubah menjadi pertanian akuakultur, kebun buah-buahan dan tanaman lainnya," tambah Tuan.
Petambak udang mengatakan bahwa mereka sudah menghadapi tanda-tanda mengkhawatirkan dari percepatan tingkat salinitas.
"Kami harus menggali sumur lebih dalam untuk mencari air tawar sekarang. Kami sangat prihatin karena naiknya permukaan air laut, pertanian kami suatu hari akan terendam," ungkap Thuy.
Video Terkait
